Blue Bell’s Weblog

March 4, 2008

Terpuruk Dalam Kasih Dan Pengkhianatan

Filed under: ChRisTian, SToRy — lydiairawati @ 11:46 pm

Susi adalah seorang jurnalis. Demi mendapatkan berita yang up to date dari seorang narasumber yang bernama Timothy, Susi harus menunggu di depan kost Timothy sampai empat jam lamanya. Pada waktu itu Timothy memang tidak mau menemui siapa pun, terutama wartawan. Sedangkan Susi sendiri tidak mau beranjak sebelum Timothy keluar. Karena kegigihan Susi untuk menunnggunya sampai berjam-jam, Timothy pun akhirnya mempersilahkan Susi untuk masuk.

Interview pertama Susi dan Timothy ternyata berjalan dengan sangat baik. Timothy dapat membicarakan banyak hal bersama Susi dan hal itu pada akhirnya sangat membantu pekerjaan Susi. Timothy dan Susi pun pada akhirnya menjadi semakin akrab melalui pertemuan-pertemuan interview. Dan tanpa disadari, hubungan yang tadinya hanya sebatas hubungan kerja berkembang menjadi hubungan sepasang kekasih. Perasaan kasih mulai bertumbuh di hati Susi dan ia mulai berpikir mungkin Timothy adalah jodohnya karena profil yang diingini dari seorang lelaki ada pada Timothy.

Hubungan yang lewat batas pun akhirnya dijalani Susi dan Timothy. Pada waktu itu Susi sendiri berpikir bahwa hal itu bukan merupakan suatu hal yang tabu, namun menjadi suatu hal yang umum dilakukan orang-orang yang berusia di atas 20 tahun. Konsekuensi dari perbuatan itu pun tidak dipikirkan oleh Susi. Sampai akhirnya Susi mengetahui kalau dirinya telah hamil.

Timothy tidak siap mendengar kabar itu. Apalagi Timothy sendiri sedang menunggu proses keberangkatannya ke luar negeri. Saat Susi mengatakan keinginannya agar mereka menemui orang tua Susi, sebenarnya pada waktu itu Timothy bermaksud mengatakan dengan terus terang kepada keluarga Susi bahwa ia akan pergi meninggalkan Susi yang sedang hamil. Namun Susi melarang maksudnya itu. Karena menurut Susi, kalau sampai orang tuanya tahu Susi sudah hamil, Timothy pasti akan dilarang untuk pergi ke luar negeri. Sedangkan Susi sangat yakin pada cinta Timothy dan percaya Timothy pasti akan kembali lagi untuk menjemputnya. Susi dan Timothy pun berpisah dengan satu komitmen bahwa mereka pasti akan menikah.

Akhirnya Timothy pergi menemui keluarga Susi dan meyakinkan mereka bahwa ia akan secepat mungkin kembali untuk menjemput Susi dan menikahinya. Namun mengenai kehamilan Susi, hal itu masih dirahasiakan. Kepergian Timothy tidak dapat dihindari. Susi hanya bisa menerima dan percaya bahwa kekasihnya akan kembali untuk menjemput dirinya dan anak yang dikandungnya. Walaupun kepergian sang kekasih membawa kesedihan yang sangat mendalam, di depan Susi saat ini menanti hal penting yang perlu diungkapkan kepada keluarganya, yaitu kehamilannya.

Ketika semua saudaranya berkumpul, Susi pun menceritakan perihal kehamilannya. Mama Susi hanya bisa menangis, papa Susi hanya terdiam dan tidak banyak bicara, sedangkan kakak laki-laki Susi langsung menolaknya untuk menjadi adiknya lagi. Semua keluarganya menuntut Susi untuk menggugurkan kandungannya namun Susi bertekad untuk tetap mempertahankannya. Susi tidak mau membuat kesalahan baru demi menutupi kesalahan sebelumnya. Susi sangat ingin melahirkan bayi yang sedang dikandungnya. Susi hanya bisa berkata kepada keluarganya bahwa ia ingin bertanggung jawab dan Susi percaya Timothy pasti akan bertanggung jawab.

Karena Susi tetap mempertahankan kehamilannya, saudara-saudaranya pun menyerah. Namun sebagai konsekuensinya, Susi harus keluar dari rumah. Tetapi karena ada salah satu kerabat keluarga yang menasehati, Susi pun diterima kembali di dalam keluarga. Sembilan bulan kemudian Susi pun melahirkan anaknya, Mario.

Susi tidak pernah membayangkan bahwa proses persalinan itu ternyata sangat menyakitkan. Perasaan bersalah melingkupi hati Susi. Selama bertahun-tahun, Susi membesarkan Mario dengan cinta sambil menanti di dalam doa untuk hari dimana Timothy akan datang menjemput mereka. Apa yang ada di hati Susi hanya satu, mempertahankan kelahiran Mario adalah suatu kebenaran dan Timothy pasti akan bertanggung jawab. Susi sangat yakin cepat atau lambat Susi akan kembali bertemu dengan Timothy dan mereka akan menikah.

Suatu hari Timothy kembali dan bertemu dengan Susi. Tanpa diduga, Timothy mengatakan bahwa dirinya telah menikah. Namun saat Timothy melihat Mario, hatinya langsung luluh. Dipenuhi perasaan bersalah, Timothy menyatakan kembali keinginannya untuk bertanggung jawab. Timothy berjanji akan mencari jalan keluar dan membicarakan masalah Susi dan Mario kepada istrinya. Walau dianggap bodoh, Susi tetap memegang teguh janji yang diucapkan kekasihnya. Walaupun Timothy telah memiliki yang lain, Susi tetap teguh dan percaya bahwa dirinya dan Timothy adalah jodoh dan suatu hari mereka pasti akan bersatu.

Hingga beberapa bulan kemudian, penantian itu pun berakhir. Susi menerima email dari Timothy yang berisi permintaan maaf karena tidak bisa memenuhi janjinya kepada Susi. Saat mendapat penolakan yang kedua kali dari orang yang sama, Susi sangat marah dan tidak mau mengampuni Timothy lagi. Susi hanya berpikir bagaimana mungkin Timothy bisa berlaku sejahat itu kepada dirinya.

Dunia Susi pun runtuh seketika. Impian yang disimpannya selama bertahun-tahun tidak akan pernah terjadi. Susi sempat mempertanyakan Tuhan, kenapa keadaan menjadi seperti ini, kenapa Tuhan tidak menjawab doanya. Depresi akibat beban hatinya yang berat membuat Susi harus dirawat di rumah sakit. Di dalam hati kecilnya Susi tahu bahwa dirinya melakukan suatu hal yang salah. Melalui buku hariannya, Susi berseru kepada Tuhan akan kerinduan hatinya untuk memiliki suami yang baik.

Suatu pagi Susi mendengarkan sebuah renungan. Renungan itu membahas Matius 6:33, “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” Khotbahnya berkata kalau kamu tidak tetap hati, seperti rel kereta api kalau kakimu bercabang, satu saat nanti kamu akan patah karena jalannya berbeda. Susi terus berdoa sampai akhirnya Tuhan menyingkapkan begitu rupa sehingga Susi menyadari bahwa hidup yang selama ini dia jalankan itu salah. Susi menyerahkan hatinya kepada Tuhan dan rindu untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Tuhan berbicara dalam hati Susi, “Anak-Ku, hapus air matamu dan ikut Aku. Aku mengasihimu.” Susi pun menyerahkan Timothy dan istrinya ke dalam tangan Tuhan dan melupakan apa yang telah lalu.

Semenjak kejadian itu, Susi merasakan kelegaan di dalam hatinya. Susi pun mengirim surat kepada Timothy dan istrinya yang isinya adalah surat berkat. Dalam suratnya Susi menulis, “Saya memberkati kalian. Saya tidak berjodoh dengan Timothy, kalian yang berjodoh. Saya berdoa supaya kalian membina hidup kalian baik-baik demi anak perempuan kalian. Tuhan akan pelihara saya dan Mario.”

Susi pun hidup dengan berserah penuh kepada Tuhan dan memberikan hidupnya untuk menjadi berkat bagi orang lain. Suatu hari Susi berbincang-bincang dengan teman lamanya. Saat itu temannya sempat menanyakan tentang pasangan hidup. Dalam perbincangan itu, Susi hanya memberikan dua kriteria kalau memang Tuhan akan memberikan pasangan hidup baginya. Yang pertama ia takut akan Tuhan, dan yang kedua ia akan merestui Susi untuk terlibat dalam pelayanan. Temannya ini kemudian menyarankan Susi untuk mendoakan seorang kenalannya. Lalu Susi pun doa puasa untuk hal itu. Susi belum mengenal sosok pria ini sama sekali.

Kira-kira bulan April, saat Susi datang di doa Jumat, itu adalah kali pertama Welly, pria yang didoakan Susi, melihat Susi. Mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Welly sendiri memiliki kebiasaan untuk mendoakan semua orang yang datang di pertemuan doa itu sebelum ia tidur. Hanya saja terjadi sesuatu, karena doa Welly mentok kepada Susi yang pada waktu itu belum dikenalnya.

Suatu hari Minggu, Welly sedang bertugas menjadi penerima tamu. Saat Susi datang, Welly pun menyapa Susi, menanyakan kabarnya dan menyatakan keinginannya untuk berbicara kepada Susi. Susi pun tidak menyangka bahwa sesuatu yang luar biasa terjadi malam itu. Saat itu Welly hanya meminta Susi untuk menceritakan semua persoalan hidupnya kepadanya. Welly hanya berkata untuk Susi tidak lagi merasa tertolak karena masa lalu meskipun banyak kepahitan yang telah ia alami di masa lalunya. Mendengar perkataan Welly, airmata Susi pun pecah. Di hadapan Welly Susi menangis dan berkata, ia lelah karena semua orang memandang dirinya sebagai perempuan yang tidak baik.

Saat Susi menangis di hadapan Welly, sesuatu yang supranatural terjadi pada Welly. Ia melihat cahaya yang sangat terang, sehingga Welly pun tidak dapat menatap Susi. Sementara hal itu terjadi, ada suara Tuhan yang berbicara, dan Welly sangat yakin kalau itu adalah suara Tuhan. Suara itu berkata, “Teman, kamu sudah melakukan tugas kamu dengan baik. Dan kamu harus bertanggung jawab atas tugas ini.” Welly pun meresponi suara itu dari dalam hatinya. Setelah itu, Welly pun berkata kepadanya untuk tidak takut. Mulai hari ini tidak akan ada lagi orang yang menolak Susi, terutama Welly. Saat itu juga Welly melamar Susi untuk menjadi calon istrinya.

Susi kaget. Susi hanya dapat melihat Welly dengan tidak percaya. Susi bingung dan hanya dapat terdiam. Welly pun meminta Susi untuk tidak menjawabnya sekarang. Welly meminta Susi untuk pulang dan berdoa untuk hal ini.

Dalam kebingungannya, Susi hanya mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan, saya minta tanda. Tapi kok hari pertama ketemu langsung dilamar? Apa yang harus saya lakukan?” Dengan masa pertemuan yang sangat singkat, Susi pun menerima lamaran Welly. Walau sempat ditentang oleh beberapa pihak, Welly dan Susi tetap bersepakat untuk mengikat janji satu sama lain. Oleh karena keteguhan hati Susi dan Welly, hati yang keras pun dilembutkan. Pernikahan pun dapat dilangsungkan.

Tadinya setiap kali Susi berdoa, Susi meminta Tuhan untuk menjawab doanya seperti apa yang Susi mau. Dan ternyata dalam 12 tahun itu, Tuhan memproses karakter Susi. Kalaupun 11 tahun yang lalu Susi menikah, Susi sadar karakter, emosi dan egonya pasti akan muncul di permukaan, belum terbentuk seperti saat ini. Bagi Mario sendiri, kejadian ini menjadi suatu hal yang sangat ia syukuri karena pada akhirnya ia bisa memiliki seorang ayah dan memiliki keluarga yang lengkap.

“Bagi saya, Tuhan itu luar biasa setia dan ajaib. Saya tidak pernah melihat Tuhan tidak menjawab doa saya. Doa-doa saya selalu Tuhan jawab. Sekalipun jawaban doa itu tidak seperti yang saya bayangkan, tapi Dia memberi jauh lebih baik daripada apa yang saya harapkan. Mungkin doa saya itu hanya minta roti tawar, tapi ternyata Tuhan memberi saya roti coklat manis,” ujar Susi menutup kesaksiannya.


Sumber Kesaksian :

Sifra Susi Langi

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: