Blue Bell’s Weblog

October 14, 2007

-= True love will never end : Endless Love =-

Filed under: Motivation & Inspiration, SToRy — lydiairawati @ 10:06 pm

Miss Annie, sebelumnya saya minta maaf. Menurut hasil pemeriksaan, anda mengidap penyakit kanker otak. Sepertinya penyakit ini sudah akut dan sulit untuk di sembuhkan.

Jdeeer…..ucapan Dokter Doni langsung terasa menohok hati Annie ( nama panggilan Anisa). Gadis mungil berparas manis ini hanya bisa terbelalak dengan tatapan mata yang kosong. Hatinya masih belum bisa mempercayai kenyataan pahit akan penyakit akut yang di tengah deritanya.

Jadi…Maksud Dokter….Saya akan mati? Begitu kan? Ujar Annie dengan suara tercekat. butir-butir air mata kian lama kian menggenang di pelupuk matanya.
Dokter Doni hanya terdiam. Sejurus kemudian pria paruh baya ini hanya menghela nafas panjang, tanda pembenaran dari pertanyaan Annie.

Maafkan aku Annie, tapi begitulah kenyataannya. Meski begitu kita masih bisa berusaha tuk menyembuhkannya. Melalui pengobatan serta terapi yang tepat…..

Enough Doc…Enough…I dont wanna hear it anymore…thank you for your attention…Belum sempat Dokter Doni melanjutkan kata-katanya, Annie langsung memotong.

Dengan langkah gontai ia bangkit dari kursi dan beranjak pergi menuju pintu keluar. langkah ini segera di ikuti oleh Dokter Doni yang mengejar serta mengantarkannya sampai ke tempat di mana Annie memarkir mobil toyota kijang milik orang tuanya.

Annie…tolong pikirkan lagi..kau masih punya cara untuk sembuh….kau masih muda. Masa depanmu pun masih panjang…jangan menyerah begitu dong.…Bujuk Dokter Doni.

Annie tidak menjawab. Ia alihkan pandangannya ke arah dokter yang sudah di anggapnya sebagai ayah kedua dan di tatapnya wajah sang dokter dengan lesu.

Hidupku sudah berakhir Dok…tidak ada yang bisa di pertahankan lagi. Ujar Annie sembari menutup pintu mobil. Tak lama berselang, mobil toyota kijang itu pun pergi meninggalkan rumah sakit. Tinggallah Dokter Doni yang berdiri mematung, memandang ke arah mobil yang kian menjauh dari pandangan.

****

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam ketika Annie sampai di rumah. Kemacetan lalu lintas yang senantiasa menghiasi jalan-jalan di kota Jakarta, membuatnya terlambat 2 jam untuk sampai di rumah.

Pulangnya malam sekali nak, macet ya. Terdengar teguran sang ibu dari arah ruang keluarga. bersama sang suami, wanita separuh baya ini, sedari tadi terus menunggu kepulangan putri sulungnya. Mereka selalu khawatir bila putri sulungnya pulang larut malam.

Iya Ma, tadi macet banget. Apalagi di daerah Casablanca. Penuh…kayak semut. Sampai pegel kaki-ku nginjak rem terus.

Ya sudah. Sekarang kamu mandi dan makan dulu setelah itu baru tidur. Mama sudah menyiapkan sup kacang merah kesukaanmu. Oh ya nak, bagaimana hasil pemeriksaan rontgen kamu tadi? apa kata dokter?

Mendengar pertanyaan sang mama, Annie hanya bisa terdiam. Di pandangnya sejumlah kwitansi pembayaran dokter dan apotik yang tergeletak, berserakan di atas meja kerja milik sang ayah. Miris hatinya ketika mengingat berapa banyak biaya yang sudah di keluarkan oleh ayah bunda tuk menyembuhkan penyakit misterius yang tengah ia derita. Tambahan lagi ia harus menghadapi kenyataan bahwa umurnya tidak akan bertahan lama.

Namun bukanlah Annie namanya bila tidak pandai menyembunyikan perasaan. Dengan senyum pahit dan keinginan tuk membahagiakan hati orang tua, di sembunyikanlah wajah sedihnya. Sebagai gantinya ia memasang wajah kepura-puraan, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.

Eh..itu…kata dokter kesehatanku baik-kaik aja kok. cuma terlalu lelah. pusingnya itu karena pengaruh gas asam lambung. Mama tahu kan kalau orang yang punya penyakit maag kayak aku gini, asam lambungnya sering naik. Nah dari situlah penyakit sakit kepalaku berasal. jelas Annie panjang lebar. Ia sengaja mengarang cerita agar kedua orang tuanya tidak tahu akan penyakit akut yang tengah di deritanya.

Oh begitu. Makanya lain kali jangan suka telat makan. Biar penyakit maag kamu gak kambuh lagi. Kalau kambuh kan kamu sendiri yang susah. Nah sekarang cepat ganti baju, mandi dan makan. Jangan sampai penyakit kamu bertambah parah. Ujar sang mama dengan penuh perhatian.

Nanti aja lah Ma, aku belum lapar. Badanku capek, aku mau tiduran dulu. Tolak Annie.

Jangan begitu dong nak. Nanti penyakit kamu kambuh lagi. Ayo cepat makan sana, kalau perlu papa temani kamu makan.
Bujuk sang papa.

Melihat sikap orang tuanya yang sangat perhatian, Annie tidak dapat menolak. Dengan segera ia menuruti nasehat kedua orang tuanya.

******

Malam itu Annie tidak bisa tidur. Sulit baginya tuk memejamkan mata. Perkataan Dokter Doni yang di dengarnya beberapa jam yang lalu, membuatnya rasa hatinya semakin tidak karuan. Butir-butir air mata perlahan jatuh membasahi pipi.

Ya Allah…kenapa semua ini terjadi? Apakah selama hidup, diri ini di takdirkan tuk membuat beban bagi kedua orang tua?. Apakah aku akan mati sebelum menunaikan janji baktiku kepada mereka? Ya Allah…sungguh aku takut akan siksa kubur yang akan menimpa bila diri ini terus menyakiti hati kedua orang tua…. Annie menangis dalam hati. Sejurus kemudian ia termenung, di pandangnya album foto yang semula tergeletak di samping tempat tidurnya. Album yang berisikan foto-foto sewaktu wisuda dulu.

Setahun Yang Lalu………

Annie selamat ya…Gak nyangka, akhirnya anak mama yang satu ini sudah jadi sarjana. selamat ya sayang….Sang mama memberi selamat sambil mencium kedua pipi putri sulungnya.

Selamat ya sayang…kami bangga padamu…
Sang papa menimpali.

Terima kasih Ma, Pa. Terima kasih atas segala dukungan, kesabaran serta doa yang papa dan mama berikan selama ini.
Ujar Annie dengan penuh haru. Di sekanya air mata yang tengah menggenangi kedua pelupuk matanya. sejurus kemudian, di keluarkanlah kamera digital yang sengaja di belinya untuk acara wisuda ini.

Ma, Pa ayo kita foto. Ded, tolong ambil foto kami ya. Pinta Annie pada seorang teman yang baru saja di kenalnya beberapa hari yang lalu. Dedie, cowok ganteng yang merupakan teman baru Annie dan sekaligus merupakan salah satu wisudawan di acara tersebut, hanya tersenyum. Di ambilnya kamera digital dari tangan gadis manis bertubuh mungil ini kemudian bersiap tuk mengambil gambar.

Semua siap? Smileeee, cheeseeee and…cCiiiikkkkkkkkk…..Selesai.

Sekali lagi-sekali lagi. Pinta annie kegirangan.

Okay. No problemo. Ready..get set..and……Cliiiiikkkkkk. Done.

Trims ya Ded, kamu baik sekali deh. Puji Annie.

Mendapati dirinya di puji oleh gadis yang merupakan gebetan alias pujaan hatinya, Dedie hanya bisa tersipu-sipu malu. Wajahnya memerah dan senyumnya tampak sumringah. Entah karena terlalu senang ataukah gugup, Dedie tidak bisa berkata sepatah kata pun. Mulutnya terkunci rapat dan lidahnya terasa kelu. Hanya sesungging senyum yang terus terlempar dari bibirnya. Melihat sikap Dedie yang terlihat gugup, Annie pun berusaha tuk mencairkan suasana.

Enak ya jadi kamu, dapar gelar sarjana dan pekerjaan sekaligus.
hehehe. Annie membuka pembicaraan.

Eh..itu..nggak kok. Biasa aja kali. Aku masih jadi junior staff. Salarynya juga kecil kok. Lain sama kamu. Kamu kan gadis cantik yang cerdas serta berasal dari keluarga terpandang. Aku yakin sebentar lagi ada perusahaan atau koneksi ortu kamu yang akan menawarkan pekerjaan. Salarynya pasti lebih besar dari aku nih. Hehehe Ujar Dedie memuji Annie.

Annie hanya menggeleng dan tersenyum. Ia tak habis pikir mengapa Dedie selalu beranggapan bahwa keberuntungan selalu menaunginya. Meski ayah Annie adalah seorang pensiunan BUMN yang memiliki banyak koneksi penting, tetap saja sulit bagi Annie tuk mendapat pekerjaan. Keinginan sang ayah serta Annie tuk mandiri dan mendapatkan pekerjaan dengan usaha sendiri, membuat keduanya enggan tuk meminta bantuan dari para relasi. Terbukti sampai saat ini, sudah 4 bulan lebih, semenjak kelulusannya dari universitas, Annie tidak kunjung mendapat pekerjaan. Meski begitu ia tetap bertekad dan berusaha sekuat tenaga tuk meraih cita-cita. Tak pernah sedikitpun bara api semangatnya padam karena selentingan-selentingan miring yang mengatakan bahwa Sarjana Ilmu Sosial seperti dirinya, sulit tuk mendapatkan pekerjaan. Baginya sebuah kesuksesan tidak tergantung dari jenis jurusan ilmu yang ia pilih, melainkan betapa besar usaha dan kerja keras tuk menjemput kesuksesan tersebut.

Kamu suka memuji berlebihan gitu deh Ded. Aku mah gak seberuntung yang kamu bilang. Buktinya sampai saat ini saja masih nganggur. Gak kayak kamu yang begitu lulus jadi Sarjana Tehnik langsung di tawarin kerjaan. Jadi bikin iri aja. Annie pura-pura merajuk.

Kamu tuh yang bisa aja. hahahaha…..

Jadilah suasana canda dan penuh keakraban menghiasi sesi foto-foto dalam acara wisuda saat itu. Tanpa mereka ( Annie dan Dedie) sadari, kejadian hari ini adalah awal dari kisah cinta dan persahabatan yang akan membawa perubahan besar dalam kehidupan masing-masing.

*****

9 bulan berlalu sudah sejak kelulusan Annie dari Universitas. Sejak saat itu pula ia terpaksa merumahkan diri alias menganggur. Tak terhitung sudah berapa ratus berkas lamaran yang ia kirimkan lewat pos maupun via e-mail, dan berbagai test wawancara ia hadiri namun hasilnya tetap saja tidak memuaskan. Sedikitnya jumlah lapangan pekerjaan serta membludaknya jumlah pelamar kerja, membuat persaingan semakin ketat.

Koneksi serta pengalaman yang mutlak di miliki oleh pelamar kerja, membuat segala sesuatunya semakin sulit. Meskipun sudah beberapa kali ikut test masuk pegawai negeri dan test-test masuk lainnya, tetap saja Annie tidak di terima. Sekalinya pun ia di terima, ia harus menghadapi perusahaan pelit yang memberikan salary kecil ( di bawah UMR) dengan jam kerja yang super padat. Singkatnya tenaga di peras, uang pun tekor.

Ketidaksuksesan Annie tuk mendapat pekerjaan serta beban berat yang harus di tanggung kedua orang tuanya setelah mengalami masa pensiun ( kedua adiknya masih kuliah, dan Annie mulai terserang berbagai penyakit sehingga membutuhkan banyak biaya), tak urung membuat kedua orang tua Annie sering bermuram durja. Harapan yang semula mereka gantungkan pada Annie tuk membantu keuangan orang tua, kini pupus sudah.

Bukannya membantu meringankan beban, Annie malah semakin merepotkan serta menyusahkan kedua orang tuanya dengan berbagai macam penyakit yang mulai menyerangnya. Kekesalan pun mulai terpancar di wajah kedua orang separuh baya itu. Meski mereka (orang tua Annie) tidak secara langsung menyampaikan kekesalannya, namun sebagai seorang anak, Annie bisa merasakan kekecewaan serta kegundahan orang tua akan penyakit serta kegagalan yang tengah menyelimuti kehidupannya ini.

Ya Allah.. Aku bersimpuh dan memohon padamu. Berilah aku kekuatan serta kemampuan tuk membahagiakan orang tua, meski hanya untuk sekejap. Janganlah engkau jadikan aku sebagai anak durhaka yang selalu menyusahkan orang tua. Bukankah kau telah mengatakan lewat firmanmu akan keutamaan tuk berbakti pada orang tuanya? Ya Allah..Engkau maha adil dan maha bijaksana…Berikanlah hambamu ini pilihan yang terbaik serta rezeki yang berlimpah, agar ia bisa berbakti kepada orang-orang yang telah melahirkan serta membesarkannya. Amin.

Begitulah doa yang selalu di panjatkan oleh Annie dalam setiap sholatnya. Sebuah doa yang selalu di iringi oleh usaha tuk meraih cita.

******

Tak ada akar rotan pun jadi. Tidak bisa bekerja di kantor, menjemput rezeki dengan cara lain pun tak masalah. Begitulah prinsip yang di anut oleh Annie. Setelah kurang lebih 9 bulan berjuang mencari pekerjaan, Annie pun akhirnya banting stir menjadi seorang penulis. Berbekal imaginasi serta pengetahuan umum yang luas, Annie memutuskan untuk menulis sebuah novel romantis yang bercerita tentang perjuangan keras seorang wanita untuk meraih mimpi, meski harus menunggu 10 tahun untuk bisa mewujudkan cita. Novel yang terinspirasi dari kisah hidupnya ini, kelak akan menjadi titik balik dari kesuksesan Annie.

Sementara itu, hubungan Annie dengan sahabatnya Dedie, kini telah berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Setelah melalui proses perkenalan yang panjang, melalui SMS dan sambungan telepon ( Sulit bagi mereka tuk bertemu-Dedie ditugaskan di Riau ) jarak jauh, akhirnya mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Bagaikan kabut dingin di tengah padang pasir gersang, perhatian serta cinta yang di berikan oleh Dedie, dapat mengurangi penderitaan batin yang tengah di alami oleh Annie.

KEMBALI KE MASA SEKARANG……..

Triiiiing….bunyi dering SMS yang berasal dari telepon genggam, menyadarkan Annie dari lamunan. Di ambilnya telepon genggam yang semula tergeletak di tempat tidur, lalu di alihkanlah pandangannya menuju monitor telepon genggam tersebut. tampak olehnya kiriman SMS dari sang kekasih, Dedie.

Hallo Annie sayang, apa kabar? Bagaimana keadaan kamu? Sakit kok gak bilang-bilang. tadi aku nelpon ke rumah, mama kamu yang angkat. Katanya kamu lagi sakit. Tanya Dedie.

Gak kok. Cuma sakit kepala sedikit. Mungkin aku terserang migrain. Tadi aku dah pergi ke dokter rumah sih. Cuma demam karena flu aja. Sebentar lagi juga sembuh kok. Balas Annie.

Benar ni? Jangan bohong ya. Makan yang benar dan istirahatlah yang cukup. Bulan depan lagi depan aku akan pulang ke Jakarta. Tunggu aku ya, sayang. Met istirahat. Semoga cepat sembuh. Miss u.

Annie tidak membalas sms penutup dari sang kekasih, seperti yang biasanya ia lakukan. Airmatanya telah penuh, jatuh dan mengalir deras membasahi pipi. Ia tak mampu lagi menahan kesedihannya. kini ia sadar bahwa dengan penyakit yang tengah bersarang di kepalanya, ia tidak hanya akan kehilangan kesempatan tuk dapat berbakti kepada kedua orang tua, namun juga akan kehilangan seseorang yang merupakan cinta pertama dan terakhir.
Hari terus berlalu dan bulan pun silih berganti. Novel karangan Annie yang berjudul The Dreamer telah di terbitkan dan menjadi best seller. tak kurang dari 10.000 buah terjual dalam waktu satu bulan.dalam sekejap, Annie telah berubah dari si pengangguran menjadi seorang penulis terkenal. Launching novel dan seminar menjadi kegiatannya sehari-hari. Ia pun kerap di undang oleh organisasi masyarakat tuk acara bedah buku. Bagaikan mimpi yang menjelma menjadi nyata, begitulah kehidupan Annie sekarang.

Ma, royalti hasil penjualan novel, Annie buatkan tabungan atas nama mama. ini…Ujar Annie sembari menyodorkan buku tabungan.

Sang mama mengambil dan melihat buku tabungan tersebut.

40 juta? uang sebanyak ini kau berikan tuk mama dan papa? kamu gak salah ngasih Nie?
Sang mama terkejut bukan kepalang.

Annie hanya tersenyum dan menggeleng.

Lalu bagaimana dengan tabungan kamu Nie? kamu kan juga butuh uang tuk masa depan. Lebih baik uangnya buat kamu aja. Di tabung tuk masa tua kamu nanti. Gak usah memikirkan kami berdua, yang terpenting diri kamu aja dulu. Sang papa menimpali.

Aduh mama dan papa ini aneh deh. Annie kan mau berbakti sama orang tua. Masak gak boleh sih. Sahut Annie dengan ekspresi sedikit kesal. Melihat putrinya yang tengah kesal
, sang ibu berusaha menjelaskan. Ia tidak melarang putrinya tuk berbakti kepada orang tua, namun akan lebih baik baginya bila uang itu di gunakan tuk keperluannya terlebih dahulu.

Bukan begitu Nie. papa mu berkata benar. Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Akan lebih baik kalau uangnya di investasikan tuk masa depan. Bukan uang yang bisa membahagiakan hati kami, melainkan prestasi kamu sebagai penulislah yang membuat kami meresa bangga. Papa dan mama sangat bahagia karena usaha tuk menjadikan putri sulung kami sebagai seorang yang sukses, tercapai sudah. Iya khan pa?

Ya. Jawab sang papa mengamini.

Sesaat Annie terdiam dan tertunduk lesu. Kalimat sang mamanya akan masa depannya yang masih panjang, serasa menusuk tajam relung hatinya. Kalau saja mereka tahu bahwa umurku tidak akan lama lagi, pastilah mama dan papa mau menerima tanda baktiku. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan hati mama dan papa. Gumam Annie dalam hati.

Kenapa, Nie? Kamu marah karena kami menyarankan supaya uang itu di tabung tuk keperluan kamu? Tanya sang mama.

Bukan..bukan gitu Ma. Annie cuma ingin membahagiakan mama dan papa sekali aja. please Ma, Pa, terima uang itu ya. Anggap aja ini kenang-kenangan dari Annie. Ayolah Ma, Pa. Ujar Annie sedikit memelas.

Tak tahan melihat sikap putrinya yang tetap keras kepala dan terus merajuk, kedua orang tua Annie dengan suka cita menerima tabungan pemberian putri mereka.

Baiklah sayang. Bila itu keinginan kamu, papa dan mama akan menerimanya. Tapi dengan satu syarat. Bila kamu butuh uang atau meresa kekurangan, kamu boleh ambil uang tabungan ini sesukanya, setuju?

Setuju.
Jawab annie dengan riang gembira. Ia merasa senang dengan keputusan yang di ambil oleh kedua orang tuanya. saking senangnya ia langsung mencium dan memeluk kedua orang tuanya.

Terima kasih ya sayang. Kami sangat bangga punya anak yang baik dan sukses seperti kamu. Ujar sang mama sembari meneteskan airmata kebahagiaan.

Sama-sama Ma, Pa. Terima kasih kasih tuk semuanya.

Jadilah suasana malam itu di hiasi oleh tangis haru kebahagiaan. Sebuah malam yang kelak akan selalu menjadi kenangan manis di hati kedua orang tuanya.

******

Saturday 15 Februari 2006, 8.20 PM, Annie Family House

Ma, Pa, sudah lama kita gak berwisata ke puncak. Besok sabtu kita sekeluarga pergi piknik yuk. Kebetulan Windy dan Rafly juga sedang libur. Sekalian ajak Dedie. Boleh kan? Bujuk Annie.

Boleh saja. Sudah lama kita tidak berwisata ke puncak. Papa juga sudah rindu dengan suasana alam puncak yang sejuk dan nyaman. Kalau menurut mama bagaimana?

Mama sih setuju saja. Tinggal Rafly dan Windynya saja. Mau gak mereka ikut?

Annie segera mengalihkan pandangannya kepada dua adiknya dan menatap mereka dengan tampang memelas serta gerakan tangan seperti memohon. Dengan kompak kedua adiknya menyatakan bahwa mereka setuju dengan rencana piknik besok.

Nah karena semua orang sudah setuju, besok pagi kita berangkat. Sekarang aku mau bersiap-siap tuk besok, menghubungi dedie, setelah itu tidur deh. Aku masuk kamar duluan ya Ma, Pa. Met malam dan met tidur. Ujar Annie mengucapkan salam sebelum tidur. Adalah sebuah kebiasaan di keluarganya tuk mengucapkan selamat malam sebelum mereka membaringkan diri di peraduan.

Selamat tidur juga sayang, semoga mimpi indah. Ujar kedua orang tuanya serempak. Tak lama berselang terdengar suara kaki menapaki tangga dan suara pintu kamar yang di kunci. Annie telah pergi ke peraduannya. Tak lama berselang langkah Annie di ikuti oleh kedua adiknya, mereka mohon diri tuk kembali ke kamar masing-masing. Tinggallah kedua orang tua Annie yang tetap berada di ruang keluarga.

Papa memiliki perasaan aneh tidak akhir-akhir ini? Sang mama membuka pembicaraan.

Perasaan aneh apa? Sang papa balik bertanya.

Akhir-akhir ini mama kok sering sedih. Entah kenapa Mama merasa ada yang aneh dengan Annie. tiap kali melihat Annie kok, hati ini bawaannya mau nangis melulu.

Ah mama bisa aja. Makanya jangan terlalu sering mikirin Annie. Dia kan sudah besar Ma. Sang papa berusaha mengalihkan pembicaraan

Jadi papa gak merasakan hal yang sama kayak mama?
tanya sang mama penasaran.

Ya..itu…huh…papa juga merasakan hal yang sama sih ma. Tapi papa gak mau ambil pusing. Anak kita kan sudah besar. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Kita gak bisa terus menerus mengawasi dan memperlakukannya seperti anak kecil.

Iya sih pa. Tapi mama gak sedih karena masalah itu kok. Mama….Belum sempat sang mama meneruskan kata-katanya, sang ayah segera memotongnya. Ia tak ingin istrinya menjadi stess dan sakit karena terlalu sering memikirkan putri sulung mereka.

Sudahlah Ma, gak usah di pikirin..nanti tekanan darah kamu naik lagi…repot kan urusannya kalau kamu sakit lagi…

Mendengar perkataan sang suami, sang Mama hanya bisa terdiam. Pikirannya menerawang, berusaha merenungi perkataan suaminya dan keresahan hati yang tengah di alaminya. Sang ayah pun sama resahnya dengan sang istri, namun ia lebih memilih berdiam diri dan mencari tahu tanpa memberitahukannya pada orang lain.

Di Lain Tempat……

Annie memandang ke arah cermin besar yang terdapat di meja rias. Di perhatikannya baik-baik wajah pucat dan kurus serta rambut pendek cepak yang kini di milikinya. Wig rambut panjang yang ia gunakan tuk mengelabuhi kedua orang tuanya, tergeletak di atas meja rias. Kanker otak telah memaksanya tuk memangkas sebagian rambutnya yang rontok. perlahan perasaan sedih dan takut akan kematian kian datang menghantui. Setan pun perlahan mulai merasuki pikirannya. Sempat terpikir olehnya tuk mengakhiri penderitaan ini dengan cara bunuh diri, namun ia segera tersadar dan menghilangkan pikiran itu jauh-jauh. Untuk sesaat ia tetap terdiam dan berdoa.

Tuhan, hamba memohon dan bersimpuh di hadapanmu. Berilah hambamu ini kekuatan tuk menghadapi segala ujian dan cobaan hingga ajal menjemput. Amin.

Annie kemudian bangkit dari tempat ia bersandar dan berjalan menuju ke arah tempat tidur. Di baringkan tubuhnya sejenak, lalu di ambilnya telepon genggam yang tergeletak di antara bantal-bantal besar yang menghiasi tempat tidurnya. Jari-jarinya sibuk memencet tombol-tombol angka. Ia berusaha menghubungi Dedie, kekasihnya.

Hallo Dedie…Ini Annie…besok aku sekeluarga mau piknik ke puncak. Kami mau ngajak kamu juga. Bisa gak?

Bisa dong say. Besok kan aku libur. kita berangkat jam berapa? memangnya kesehatan kamu sudah membaik? Kok mau piknik ke puncak? Tanya Dedie dengan penuh perhatian.

Huh….Annie kembali menghela nafas panjang. Dengan berat hati ia kembali mengatakan sesuatu yang ia rahasiakan dari kedua orang tuanya.

Ded, umurku tidak akan lama lagi. Semakin hari kesehatanku semakin memburuk. So…Before everything goes…aku mau ingin menghabiskan waktuku dengan keluargaku dan kamu. Mungkin besok adalah hari terahirku..who knows….Ujar Annie dengan lesu.

Honey….Dedie tidak bisa meneruskan kata-katanya. Suaranya bagaikan tercekat. Terbayang olehnya kenyataan bahwa gadis yang di cintainya kini telah sekarat. Bagi Dedie, Annie bukanlah sekedar kekasih belaka. Baginya, Annie adalah seorang gadis yang telah mengembalikan semangat hidupnya, penghibur di kala ia sedih serta cinta pertamanya.

******


Sunday 16 Februari 2006, 11.00 Am. Perkebunan Teh, Puncak, Bogor.

Aaaaah segarnya, udara di puncak memang benar-benar sejuk ya. Kalau begini terus aku bisa kembali sehat nih. Gumam Annie sembari menarik nafas panjang dan menghembuskannya dalam-dalam. Pandangannya di arahkan pada kumpulan dedaunan teh hijau yang menyelimuti wilayah tersebut.

Dedie yang sejak semula berada tak jauh dari tempat Annie berdiri, hanya bisa tersenyum kecut ketika mendengar ucapan sang kekasih.

Kalau saja udara sejuk ini bisa menyembuhkanmu dan membuatmu kembali seperti sedia kala, pastilah aku dengan senang hati akan membawamu kemari setiap minggu. Ujar dedie dalam hati

Nak dedie jangan melamun aja. Nanti kesurupan lho. Teguran dari sang mama, seketika membuyarkan lamunannya.

Eh tante. Saya tidak melamun kok. Cuma melihat pemandangan saja.
Jawab Dedie gugup.

Melihat pemandangan atau memandangi Annie? Goda sang mama.

Dedie tidak menjawab dan hanya tersipu malu. Sejurus kemudian sang mama mengajak Dedie dan Annie berkumpul untuk makan siang.

Ayo Ded, Nie, kita makan siang dulu. Papa sudah menggelar karpet piknik. makanan pun sudah di siapkan. ayo. Ajak sang mama.

Annie dan Dedie hanya mengangguk dan bergegas pergi mengikuti sang mama. makanan bercita rasa barat seperti spaghetti dan burger menghiasi menu makan siang mereka.

Piknik kok menunya spaghetti dan burger? mestinya kan nasi goreng, ikan mas atau lalap. biar menyatu dengan alam gitu.
Protes sang papa.

ya biar aja atuh Pa. namanya juga terburu-buru. Ya akhirnya bikin yang instan aja. Dari pada bikin ikan mas, lama bikin bumbunya. Kalau spaghetti dan burger kan bumbunya tinggal beli di supermarket. Mudah dan praktis. Sang mama berusaha membela diri.

Gerrrrrrr….anak-anak pun tertawa terbahak-bahak melihat perdebatan kedua orang tua tersebut.

*****

Seusai menyelesaikan santap siang, Annie dan Dedie mengajak seluruh anggota keluarga tukmelakukan permainan dan berfoto bersama. Berbagai macam foto di berbagai lokasi di perkebunan teh mereka ambil. Mulai dari mimik lucu sampai foto keluarga. Suasana riang gembira pun terpampang di wajah-wajah para anggota keluarga, terutama Annie. Tak pernah ia merasa sebahagia ini. Kesedihannya seakan-akan telah terhapus ketika menyaksikan wajah-wajah bahagia anggota keluarganya serta sang kekasih, Dedie. bayangan kematian yang kian mendekat, tidak lagi di rasakannya. Hanya kebahagiaan yang menghiasi relung hatinya.

Sayang seribu sayang, di tengah kebahagian yang tengah merekah, kesedihan datang menjemput. Penyakit Annie yang kian parah membuatnya pingsan dalam perjalanan pulang menuju jakarta.

Om, tolong bawa annie ke rumah sakit secepatnya. dia pingsan om. Dedie mengejutkan.

Ada apa Ded? apa yang terjadi sama annie? Apa dia sakit lagi.
Tanya sang papa yang tengah mengemudikan mobil.

Pokoknya cepat bawa Annie ke rumah sakit. Kalau tidak nyawanya tak akan tertolong lagi. percayalah om.

Annie…..kamu kenapa nak? bangun sayang…. Pekik sang mama histeris.

Sudahlah ma jangan menambah sulit. Annie sedang sakit, sebaiknya mama tenang dan bantu anak-anak menyadarkan Annie. Ujar sang papa menenangkan sembari menepikan mobil toyota kijang yang tengah di kemudikannya. Tak lama kemudian sang mama turun dan duduk di sebelah Dedie dan Annie yang tengah duduk di belakang.

Adityo Hospital 4.00 PM, Jakarta

Setibanya di rumah sakit, Annie langsung di masukkan ke ruang ICU. Kondisi Annie yang sudah sangat parah membuat para dokter tidak berani memastikan apakah gadis muda ini dapat bertahan lebih lama lagi.

Dokter Doni, dokter keluarga yang merawat Annie dan sudah di anggap sebagai ayah kedua oleh Annie, menemui keluarga hermans. Ia menjelaskan kondisi kritis yang tengah di alami oleh gadis malang itu.

Bapak dan ibu hermans, saya tahu sangat berat bagi anda berdua untuk mendengar kenyataan ini. Kondisi annie sudah sangat parah. Kanker otaknya telah menyebar dan saat ini dia sedang berada dalam kondisi kritis. Kemungkinan untuk hidupnya pun sangat kecil. Meski begitu kami akan berusaha keras tuk menyelamatkannya.

Ka….kanker? apa maksud anda dokter? putri kami tidak mengidap penyakit apapun. Selama ini ia sehat-sehat saja. Benar khan Ma? Ujar sang papa tidak percaya.

Benar apa yang di katakan oleh suami saya dok. Selama ini Annie selalu terlihat sehat. Tapi kenapa tiba-tiba ia mengidap kanker otak? bukankah waktu itu anda sudah memeriksanya? Anda sendiri yang bilang sama Annie kalau itu hanya penyakit maag biasa. Asam lambung. Pasti ada kesalahan diagnosa.
Timpal sang mama dengan sedikit histeris. Kedua orang tua Annie bersikeras tidak bisa menerima kenyataan ini. bagaimana mungkin putri sulung yang selama ini terlihat sehat dan ceria, tiba-tiba saja mengidap kanker otak akut dan di prediksikan tidak dapat tertolong lagi.

Benar apa yang di katakan oleh Dokter Doni, Tante. Selama ini Annie memang sakit. Tapi ia berusaha menyembunyikannya dari om dan tante. Ia tak ingin melihat keluarganya susah dan bersedih karena penyakit yang di idapnya. kalau selama ini tante dan om melihat annie baik-baik saja, itu karena Annie merubah penampilannya dengan mengunakan make up. Salah seorang temannya yang kerja di salon yang mengajarinya.

Om, Tante, Annie sudah tahu bahwa ia akan meninggal, oleh karena itu sebelum ajal menjemput, ia ingin membahagiakan kalian tuk yang terakhir kalinya. Novel The dreamer adalah karya yang di persembahkan Annie untuk kalian. Ia berharap uang dari penjualan novel tersebut bisa di berikan untuk tabungan masa depan kalian. ia juga menolak menjalani terapi, karena ia tahu semua itu sudah tidak ada gunanya lagi. Dedie menjelaskan panjang lebar.

Seusai mendengarkan penjelasan Dedie, pecahlah tangis keluarga hermans. Mereka tidak percaya bahwa putrinya rela berkorban sejauh itu demi membahagiakan kedua orang tuanya. terlebih lagi nyonya hermans. Ibunda Annie ini merasa sangat sedih dan menyesal karena tidak menyadari kegelisahan serta penderitaan putri sulungnya. Jadilah ia pingsan setelah mendengar hal itu.

****

Tuhan rupanya lebih sayang pada Annie, IA tak rela hambanya yang saleh dan berbakti kepada kedua orang tua itu berlama-lama menderita dengan penyakitnya. Tepat jam 8 malam, Annie menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kabar kematian penulis novel terkenal, Anisa Damayanti segera tersiar di berbagai media. meninggalnya penulis novel yang tengah naik daun ini sontak mengangetkan hati para penggemarnya. Ribuan orang mengiringi proses pemakamannya. Mereka ingin memberikan penghormatan yang terakhir untuk sang penulis.

Kematian Annie telah membawa berkah bagi banyak orang. Meskipun ia tidak lagi berada di dunia ini dan jasadnya telah hilang di telan bumi, namun karya dan kisah hidupnya telah membawa semangat dan inspirasi bagi banyak orang. Sebulan setelah Annie menghembuskan nafasnya yang terakhir, novel The Dreamer miliknya di terbitkan di Dubai. Bak kacang goreng, novel tersebut laris di pasaran dan menjadi the best novel of the year. Kini mimpi Annie tuk membahagiakan kedua orang tuanya terwujud sudah. Seperti yang ia ungkapkan dalam sebuah kalimat yang di tulis dalam buku hariannya:

Bagaikan bulan yang bersinar indah di malam hari, cahayanya akan selalu ada dan menyertai relung hidupmu.
Begitu pula diriku, meskipun kelak aku telah tiada, cahaya cintaku akan selalu terkenang di hati kalian ( keluargaku).

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: